Aplikasi Mudah dan Praktis PSAK 10 (Revisi 2010) Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing (2)


Pengakuan awal dan penerapan pada tanggal pelaporan.

Setelah pada postingan sebelumnya kita telah memahami metode penentuan Mata Uang Fungsional (Functional Currency) sesuai anjuran PSAK 10. Pada postingan ini akan kita bahas metode pengukuran / pencatatan atas suatu transaksi dan / atau kejadian ekonomi yang berpengaruh terhadap entitas.

Sesuai yang dipersyaratkan, bahwa transaksi dicatat menggunakan accrual basis. Hal ini seusai dengan prinsip akuntansi Substansi mengungguli bentuk (substance over form). Permasalahan akan muncul apabila terdapat transaksi yang menggunakan mata uang asing (selain functional currency), bagaimana kita akan mengkonversinya dan memakai kurs apa,,??

PSAK 10 sendiri telah memberikan arahan untuk pengakuan suatu transaksi mata uang asing harus dicatat dalam mata uang fungsional, jumlah mata uang asing dihitung ke dalam mata uang fungsional dengan kurs spot, yakni kurs antara mata uang fungsional dan mata uang asing pada tanggal transaksi (tanggal memenuhi kriteria pengakuan). Untuk lebih mudahnya kami berikan contoh jurnal pengakuannya berikut

jurnal

jurnal

Kesimpulannya, kita harus mengetahui suatu transaksi dilakukan / diselesaikan dengan mata uang apa atau sering kita sebut original currceny, sehingga kita tahu apakah harus melakukan konversi atau tidak. Contoh jurnal diatas adalah perusahaan yang memutuskan menggunakan Functional Currency USD. Penting kiranya suatu perusahaan memiliki history pencatatan akuntansi secara lengkap berikut original currency, sehingga apabila di masa depan terjadi perubahan functional currency, tentu saja sangat mempermudah proses remeasurement, dari pada kita harus mencari satu per satu dokumen transaksi.

Pada saat proses tutup buku (closing), perusahaan harus melakukan revaluasi (penilaian kembali) terhadap pos moneter yang menggunakan mata uang asing. Pos moneter mata uang asing harus dijabarkan menggunakan kurs penutup, sedangkan pos nonmoneter yang diukur dalam biaya historis, dalam mata uang asing dijabarkan menggunakan kurs pada tanggal transaksi, dan pos nonmoneter yang diukur pada nilai wajar, dalam mata uang asing dijabarkan menggunakan kurs pada tanggal ketika nilai wajar ditentukan. Hasil revaluasi ini akan menghasilkan jurnal pos moneter berlawanan dengan unrealized exchange gain/ loss (laba/ rugi selisih kurs yang belum direalisasi), dan pada periode berikutnya, jurnal ini harus dibalik (reverse).

Lantas bagaimana kita membedakan akun menjadi pos moneter dan nonmoneter ?. sesuai dengan penjelasan PSAK 10, fitur utama dari suatu pos moneter adalah hak untuk menerima (atau kewajiban untuk menyerahkan) suatu jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat ditentukan, seperti kas/ setara kas, piutang, imbalan kerja, kewajiban, dividen kas dan akun lain yang kemungkinan besar harus diselesaikan secara kas. Sedangkan fitur utama dari suatu pos nonmoneter adalah tidak adanya hak untuk menerima (atau kewajiban untuk menyerahkan) suatu jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat ditentukan, seperti uang muka, goodwill, aset tetap, persediaan dan lain-lain.

Adanya kompensasi atau pembayaran yang menggunakan mata uang asing atas suatu transaksi di waktu yang berbeda akan menghasilkan realized exchange gain/ loss (laba/ rugi selisih kura yang terealisasi).

Sampai pada langkah ini seharusnya anda bisa menghasilkan laporan keuangan menggunakan mata uang penyajian sesuai dengan mata uang fungsional. Selanjutnya, kita akan membahas proses translasi dan remeasurement.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s